
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dari masa perjuangan kemerdekaan, akan tetapi semangat dan…
Frans Seda: Pejuang Bangsa Lewat Pikiran dan Pengabdian Fransiskus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal…
Frans Seda dan Relevansi Nilai-Nilainya bagi Indonesia Hari Ini Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi…
Kerendahan Hati yang Menggema dalam Sejarah Bangsa Karel Sadsuitubun lahir pada 14 Oktober 1928 di…