
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Perjalanan Hidup Romo Richardus Kardis Sandjaja Richardus Kardis Sandjaja lahir pada 20 Mei 1914 di…
Pelajaran dari Karel Sadsuitubun di Era Modern Karel Sadsuitubun lahir di Tual, Maluku Tenggara pada…
Indonesia mengenal banyak pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan segenap jiwa dan raganya. Di antara…