
Trailer coming soon.
Di setiap langkahnya, dunia menuntut kompromi. Bahkan, kesetiaan bisa berubah menjadi ilusi dalam sekejap. Ia tahu ketika ia berjalan di garis tipis antara hidup dan mati, ancaman bisa datang kapan saja. Di antara papan dan senapan, Mongisidi berjalan di dunia yang dikuasai tangan asing. Papan tulis berubah menjadi medan tempur, kapur menjadi debu sejarah, dan tangan yang dahulu menulis kini belajar menggenggam senjata. Tatkala Belanda datang, ia memilih bergabung dengan laskar. Merebut senjata tanpa menumpahkan darah. Berperang gerilya hingga malam menutup medan pertempuran. Kebebasan selalu punya harga, dan ia membayarnya dengan nyawanya sendiri.
Tercatat, Robert Wolter Mongisidi.
Hari ini saya menjadi penerima tamu. Saya sangat lelah karena harus datang dari pagi. Namun,…
Hari ini saya melaksanakan uprak umum. Awalnya saya merasa sangat khawatir. Namun, saya sangat terharu…
Hari ini saya dan teman-teman melakukan gladi bersih di bangsal. Awalnya saya sangat takut. Saya…
Pada 11 Februari, kami melaksanakan gladi bersih dengan dialog dialog yang sudah lengkap dan menggunakan…
Pada tanggal 10 Februari, kami melaksanakan gladi kotor di bangsal dengan fokus utama pada perpindahan…